Teminabuan — Misdinar St Tarsisius Paroki St Albertus Agung Teminabuan melaksanakan Kegiatan Temu Misdinar Ke VII di Ayamaru Kabupaten Maybrat yang diselenggarakan pada 22 sampai 25 Maret 2026 Dengan Thema Vade Mecum yang artinya pergilah bersamaku atau Ikutlah Denganku

Pastor Paroki St. Albertus Agung Teminabuan RD Zepto Triffon Polii Pr menegaskan pentingnya pembinaan generasi muda Gereja saat membuka Temu Misdinar St. Tarsisius ke-VII yang berlangsung di Ayamaru, 22–25 Maret 2026, mengusung tema “Vade Mecum” (Ikutlah Bersamaku).
Dalam homilinya, pastor menyampaikan bahwa kehadiran misdinar menjadi tanda harapan baru bagi Gereja. Ia menekankan bahwa tunas-tunas muda harus dijaga, dibina, dan diarahkan secara bertanggung jawab agar dapat bertumbuh dengan baik, baik secara rohani maupun kepribadian.
“Pertumbuhan tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Anak-anak perlu didorong, diarahkan, bahkan dalam batas tertentu ditegaskan agar berkembang secara benar,” ujarnya.
Ia mengibaratkan pembinaan seperti merawat taman: tanaman yang baik perlu dipelihara, sementara hal-hal yang menghambat harus disingkirkan. Proses itu, menurutnya, kadang tidak mudah, namun penting untuk membentuk karakter dan kedewasaan iman.

Pastor juga menegaskan bahwa Gereja memiliki peran sebagai ibu sekaligus guru—yang penuh kasih, namun juga tegas dalam mendidik umat. Oleh karena itu, pembinaan misdinar tidak hanya dilakukan saat kegiatan besar, tetapi juga melalui pendampingan rutin di tingkat paroki dan stasi.
Selain itu, ia mengajak orang tua dan para pembina untuk terlibat aktif dalam mendukung pertumbuhan anak-anak, termasuk dalam membangun disiplin, mengatur penggunaan teknologi, serta membina kehidupan rohani, khususnya dalam masa Prapaskah.
Pada penutupan kegiatan, pastor menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari panitia, dewan pastoral, para pembina, orang tua, hingga relawan yang mendukung pelaksanaan kegiatan.
Ia juga menyoroti semangat kemandirian umat dalam pembiayaan kegiatan. Seluruh kebutuhan acara, kata dia, dipenuhi melalui partisipasi umat tanpa bergantung pada bantuan eksternal.
“Kegiatan ini menjadi bentuk pendidikan bagi anak-anak untuk belajar bertanggung jawab, tidak hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pribadi yang mau memberi,” tegasnya.
Temu Misdinar ini diharapkan tidak hanya membentuk keterampilan liturgi, tetapi juga memperkuat karakter, kedisiplinan, serta semangat kebersamaan di kalangan generasi muda Gereja. (EB/Red)
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar